Tuesday, August 2, 2016

Mengapa Kita Tidak Mempunyai Ingatan Pada Masa Balita

Memori Balita
Memori Balita


Kebanyakan dari kita tidak bisa mengingat kehidupan di usia empat tahun pertama. Bahkan, faktanya kita hanya mengingat sedikit saja tentang masa-masa sebelum usia 7 tahun.

Ketika kita mencoba mengingat kehidupan awal sebagai balita, terkadang tidak jelas apakah itu ingatan yang nyata atau kita hanya mengumpulkan kembali apa yang diceritakan orang lain tentang kita atau dari foto-foto.

Fenomena tersebut disebut juga dengan "amnesia masa kecil". Para ilmuwan sejak lama berusaha memecahkan misteri ini, dan sampai saat ini belum ada penjelasan yang mencerahkan.

Salah satu teori menyebut, kita tidak bisa mengingat masa bayi dan balita karena di usia ini memang belum terbentuk memori yang utuh. Walau begitu, bayi berusia 6 bulan bisa memiliki memori jangka pendek.

Ingatan pada bayi hanya bertahan satu menit, dan dalam jangka panjang hanya dalam hitungan minggu atau bulan.

Dalam sebuah penelitian, bayi berumur 6 bulan yang belajar bagaimana menekan pengungkit mainan kereta-keretaan bisa mengingat lagi cara kerja mainan ini tiga minggu kemudian.

Pada anak usia prasekolah, mereka bisa mengingat kejadian satu tahun sebelumnya. Tetapi masih diperdebatkan apakah memori jangka panjang di usia dini memang sesuatu yang memang terkait dengan waktu dan tempat secara akurat.

Menurut Jeanne Shinskey, dosen senior bidang psikologi dari Royal Holloway Universitas London, kemampuan memori anak berusia tiga tahun memang tak seperti pada orang dewasa, karena masih terus berkembang.

"Perubahan-perubahan pada masa perkembangan yang juga terjadi pada otak, mungkin bisa menjelaskan mengapa ingatan masa kecil menghilang," katanya.

Perkembangan yang juga terjadi pada bagian-bagian otak ini termasuk pembentukan, mempertahankan, dan mengambil kembali memori. Misalnya saja, hipocampus yang bertanggung jawab pada pembentukan memori, masih berkembang sampai usia 7 tahun.

Selain itu, faktor bahasa juga berperan. Di usia satu sampai enam tahun, anak-anak mengalami perkembangan bahasa yang pesat, dari satu dua kata menjadi sangat fasih bicara.

Perkembangan yang pesat pada kemampuan verbal ini tumpang tindih dengan periode amnesia masa kecil. Misalnya saja penggunaan kata-kata lampau, sehingga anak sering keliru mengingat hal yang terjadi minggu lalu atau kemarin.

Para ahli mengatakan, memori sebelum usia bicara akan hilang jika tidak diungkapkan dalam bahasa. Dalam penelitian, bayi berusia 2,5 tahun yang secara verbal bisa menceritakan suatu kejadian akan tetap mengingatnya sampai 5 tahun kemudian.

Shinskey mengatakan, kebiasaan bercerita dari orangtua juga bisa membantu anak mengingat.

"Cerita dalam keluarga bisa menjaga ingatan anak dan juga meningkatkan kemampuan naratif, yaitu mengingat kejadian kronologis. Semakin runut ceritanya, makin mudah diingat," katanya.

Faktor budaya ikut berpengaruh pada terbentuknya ingatan masa kecil. Orang dewasa di lingkungan budaya yang lebih menghargai kemandirian (Amerika Utara, Eropa), cenderung memiliki ingatan masa kecil lebih baik dibanding dengan orang dewasa yang dibesarkan dalam budaya yang menghargai kekerabatan (Asia dan Afrika).

Dalam budaya yang lebih menonjolkan kemandiran, orangtua akan lebih banyak menceritakan tentang kemampuan individu anak, pengalaman, perasaan, tetapi lebih sedikit tentang hubungan dengan orang lain atau rutinitas sosial.

Sebagai contoh, anak-anak di Amerika mungkin lebih mengingat mereka mendapat bintang emas dari gurunya di kelas playgroup, sementara anak di China mengingat mereka belajar bernyanyi bersama di kelas.

Memang masih banyak hal yang belum dipahami dalam amnesia masa anak-anak ini, tetapi hasil penelitian terbaru terus mengalami kemajuan.

Shinskey mengatakan, walau kita tidak bisa dengan jelas mengingat kejadian saat usia balita, tetapi masa-masa tersebut meninggalkan jejak kuat dan memengaruhi perilaku kita saat ini.

Riset Ini Dapat Memprediksi Waktu Kematian Manusia

Riset Kematian
Riset Kematian


Para ahli biologi membagi kehidupan menjadi tiga fase: masa perkembangan, penuaan dan masa tua. Tetapi, menurut penelitian teranyar mungkin ada fase keempat yaitu masa sebelum kematian. Ilmuwan menyebutnya "spiral kematian".

Meski kebanyakan riset mengenai "spiral kematian" difokuskan pada lalat buah, tapi para ilmuwan menyebut mungkin hal itu bisa memberi gambaran bernilai tentang tahap akhir pada hidup manusia.

"Kami yakin ini adalah bagian dari proses yang pada dasarnya sebuah program kematian," kata Laurence Mueller, ketua Departemen Ekologi dan Evolusi Biologi dari Universitas California, Irvine.

Dalam pengamatan pada lalat buah, diketahui spiral mendekati kematian bisa dilihat dari penurunan kesuburan pada lalat betina.

Bagaimana dengan manusia? Mueller berpendapat bahwa manusia juga memiliki sprial kematian. Dalam riset yang menganalisa data 2.262 orang berusia 92-100 tahun, diketahui skor kemampuan fisik dan kognitif orang yang meninggal dalam dua tahun penelitian itu lebih rendah.

Hasil penilaian meliputi kekuatan menggenggam, kekuatan melakukan aktivitas harian (seperti makan dan menggunakan toilet), serta tes untuk mengevaluasi penurunan kognitif.

Pada dasarnya, spiral kematian pada orang bisa menjelaskan mengapa kita sering melihat penurunan kemampuan sebelum seseorang meninggal.

Untuk mengetahui secara pasti spiral kematian pada manusia memang secara etis dan biologis lebih menantang. Namun, dengan melihat spiral kematian pada organisme lain bisa membantu para ilmuwan mendapat gambaran bagaimana hal ini juga terjadi pada manusia.

Menurut Mueler, secara genetik sebenarnya manusia punya banyak kesamaan dengan lalat buah.

Ia mengatakan, tujuan dari riset ini bukan untuk menghentikan atau memperlambat kematian, tapi meningkatkan kualitas hidup.

"Bagaimana memperpendek fase 'spiral kematian' sehingga kita bisa sesehat orang lain sampai sesaat sebelum kematian," kata Mueller.

Beberapa Penyebab Penyakit Jantung Pada Usia Muda

Penyakit Jantung di Usia Muda
Penyakit Jantung di Usia Muda


Kepergian salah satu penyanyi Indonesia, Mike Mohede yang begitu mendadak sangat mengejutkan. Mike yang berusia 32 tahun meninggal dunia di tengah tidur siangnya. Dikabarkan karena penyakit jantung.

Saat ini penyakit jantung memang tak lagi hanya menyerang orang-orang berusia lanjut. Kini, justru semakin banyak orang berusia muda terserang penyakit jantung. Sebenarnya apa penyebab penyakit jantung di usia muda? Adakah yang bisa dilakukan untuk pencegahan?

Belum lama ini sebuah studi melakukan pemeriksaan terhadap 760 mayat remaja dan orang berusia muda, para peneliti menemukan sumbatan pada arteri koroner yang disebabkan oleh penumpukan Kolesterol.

Hal tersebut menunjukkan bahwa, pencegahan penyakit jantung di masa depan sudah harus dilakukan sejak usia anak-anak, ungkap penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnaL Circulation.

“Intinya adalah bahwa pencegahan jangka panjang penyakit arteri koroner sudah harus dimulai pada masa anak-anak atau setidaknya di usia remaja,” ujar penelit senior Dr. Henry McGill, ilmuwan senior dari Southwest Foundation for Biomedical Research di San Antonio, Texas.

Studi ini meneliti arteri orang-orang muda yang meninggal karena penyebab lain, seperti bunuh diri, pembunuhan, dan juga kecelakaan.

Seperlima dari orang-orang muda berusia 30-34 telah muncul plak atau deposit lemak di dalam arteri koroner mereka, yang menandakan adanya risiko menuju serangan jantung dan stroke di masa depan.

Dalam penelitian ini, terlihat bahwa laki-laki dua kali lebih berisiko mengalami munculnya plak dibandingkan wanita dengan rentang usia yang sama.

Faktor risiko terbesar terjadinya sumbatan arteri adalah obesitas dan tingginya kadar low density lipoprotein (LDL) atau yang dikenal dengan Kolesterol jahat, yang mana inilah yang akan menempel di dinding-dinding arteri.

Sedangkan faktor risiko lain seperti merokok, tekanan darah tinggi, dan kadar high density lipoprotein (HDL) atau Kolesterol baik yang rendah juga meningkatkan risiko seseorang mengalami penyumbatan arteri.

Penelitian ini juga menemukan, bahwa laki-laki muda berusia 20-an dan 30-an dengan Kolesterol tinggi, dua sampai tiga setengah kali lebih berisiko meninggal karena penyakit jantung. Bahkan, berisiko mengalami kematian dini empat hingga sembilan tahun lebih awal dibanding para pria dengan kadar Kolesterol lebih sehat.

Dari penelitian ini, terungkap bahwa orang-orang berusia muda di awal 20-an harus mulai menguji kadar kolesterolnya, seperti yang direkomendasikan oleh National Cholesterol Education Project, kata Dr Peter Libby, Kepala Kedokteran Kardiovaskular di Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston.

“Bahkan mereka yang berusia 20-an harus tahu berapa angka Kolesterol mereka dan memastikan bahwa kadar koelsterol mereka dalam kendali,” kata Libby.

“Ini jauh lebih baik untuk mencegah penyakit ini di awal, daripada mengobati serangan jantung dan stroke ketika sudah terjadi.”